Payakumbuh, 25 Oktober 2022



Sekolah perlu mengusahakan agar lingkungan sekolah menjadi sebuah lingkungan yang menyenangkan, aman, nyaman untuk bertumbuh, serta dapat menjaga dan melindungi setiap murid dari hal-hal yang kurang bermanfaat, atau bahkan menganggu perkembangan potensi murid. Suatu lingkungan yang aman dan nyaman akan memberikan murid kesempatan dan kebebasan untuk berproses, belajar, membuat kesalahan, belajar lagi, sehingga mampu menerima dan menyerap suatu pembelajaran.  Selama peserta didik merasakan tekanan-tekanan dari lingkungannya, maka proses pembelajaran akan sulit terjadi. Dan salah satu tanggung jawab guru adalah menghilangkan atau mencabut gangguan-gangguan yang menghalangi proses pengembangan potensi murid.

Lingkungan yang positif sangat diperlukan agar pembelajaran yang terjadi adalah pembelajaran yang berpihak pada murid sebagaimana tertuang dalam standar proses pada Standar Nasional Pendidikan pasal 12 yaitu pelaksanaan pembelajaran diselenggarakan dalam suasana belajar yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, dan memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis peserta didik. Untuk itulah menciptakan lingkungan positif sangat penting agar nantinya terbentuk suatu budaya positif sekolah.

Budaya positif di sekolah ialah nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab. Dalam mewujudkan budaya positif ini, guru memegang peranan sentral. Guru perlu memahami posisi apa yang tepat untuk mewujudkan budaya positif tersebut di kelas maupun di sekolah. Salah satu budaya positif yang dapat diterapkan oleh guru adalah dengan membuat keyakinan kelas. Keyakinan kelas ini dapat dibuat untuk mengkondisikan proses pembelajaran yang akan dilaksanakan oleh guru yang bersangkutan atau dibuat diawal tahun pelajaran untuk kelas yang bersangkutan.

Mengapa keyakinan kelas bukan peraturan kelas? Karena keyakinan merupakan nilai-nilai kebajikan (prinsip-prinsip) universal yang disepakati bersama secara universal, lepas dari latar belakang suku, bahasa maupun agama. Keyakinan akan lebih memotivasi peserta didik secara intrinsik dan akan berdampak pada tanggung jawab peserta didik. Peserta didik akan lebih tergerak dan bersemangat untuk menjalankannya daripada hanya sekedar peraturan kelas saja. Nilai-nilai kebajikan inilah yang disepakati oleh semua warga kelas dengan penuh rasa tanggung jawab sehingga melahirkan keyakinan kelas yang akan menuntun warga kelas untuk berprilaku sesuai dengan keyakinan yang sudah ditetapkan secara bersama-sama.

 Ciri-ciri keyakinan kelas antara lain

  1. Keyakinan kelas bersifat lebih abstrak daripada peraturan, yang lebih rinci dan konkrit
  2. Keyakinan kelas berupa pernyataan-pernyataan universal
  3.  Pernyataan keyakinan kelas senantiasa dibuat dalam dalam bentuk positif
  4. Keyakinan kelas tidak dibuat terlalu banyak, sehingga mudah diingat dan dipahami oleh semua warga sekolah
  5. Keyakinan kelas merupakan sesuatu yang dapat diterapkan di lingkungan tersebut
  6. Semua warga kelas berkontribusi dalam pembuatan keyakinan kelas melalui kegiatan curah pendapat
  7. Keyakinan kelas dapat ditinjau kembali dari waktu ke waktu

 Prosedur pembentukan keyakinan kelas antara lain:

  1. Mempersilakan warga kelas untuk bercurah pendapat tentang nilai kebajikan yang disepakati kelas
  2. Mencatat semua masukan-masukan warga kelas di papan tulis atau kerta besar, dimana semua anggota bisa melihat hasil curah pendapat
  3. Menyusun keyakinan kelas sesuai prosedur pembentukan keyakinan kelas. Gantilah kalimat-kalimat dalam bentuk bentuk negatif menjadi positif. Contoh Kalimat negatif : Jangan buang sampah sembarangan menjadi kalimat positif : Membuang sampah pada tempatnya adalah bentuk kepedulian kami
  4. Tinjau kembali daftar curah pendapat yang sudah dicatat. Ada kemungkinan akan didapati bahwa pernyataan yang tertulis masih banyak berupa peraturan-peraturan. Selanjutnya, ajak warga kelas untuk menemukan nilai kebajikan atau keyakinan yang dituju dari peraturan tersebut. Contoh; Berjalan di kelas, Dengarkan Guru,  bahwa satu paying yaitu keyakinan untuk Saling Menghormati. Keyakinan inilah yang dimasukkan dalam daftar untuk disepakati.
  5. Tinjau ulang keyakinan kelas secara bersama-sama. Sebaiknya keyakinan kelas tidak terlalu banyak, bisa berkisar antara 3-7 keyakinan saja
  6. Setelah keyakinan kelas dibuat, maka semua warga kelas dipersilahkan meninjau ulang, dan menyetujui dengan menantangani keyakinan kelas tersebut, termasuk guru dan semua warga kelas
  7. Keyakinan kelas tersebut dilekatkan di dinding kelas di tempat yang mudah dilihat semua warga kelas
  8. Contoh pelaksanaan penyusunan aksi nyata pembuatan keyakinan kelas di kelas IX/A di SMP Fidelis Payakumbuh.

Pelaksanaan “Keyakinan Kelas sebagai Bentuk Membangun Budaya Positif Sekolah di SMP Fidelis Payakumbuh” bertujuan untuk: memperkenalkan keyakinan kelas kepada peserta didik, menyusun keyakinan kelas bersama peserta didik, membiasakan penerapan keyakinan kelas untuk menumbuhkan kontrol diri pada peserta didik, dan membangun rasa tanggung jawab dan kemandirian peserta didik dalam bertindak

 Pelaksanan pembuatan keyakinan kelas ini dilaksanakan dengan beberapa langkah berikut ini:

  1. Guru memberikan sosialisasi tentang akan pentingnya keyakinan kelas dibuat dan disepakati semua warga kelas
  2. Menyusun keyakinan kelas bersama peserta didik. Kegiatan yang dilakukan adalah; melakukan brain storming tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, mencatat semua masukan, mengajak peserta didik menemukan nilai kebajikan yang menjadi inti keyakinan, menyusun keyakinan kelas dari nilai-nilai kebajikan tersebut






3. Peserta didik membuat poster keyakinan kelas

    

4. Menempatkan keyakinan kelas di tempat yang mudah dilihat


Tantangan yang dihadapi terkait keyakinan kelas adalah dalam hal merubah pemikiran peserta didik bahwa keyakinan kelas bukan peraturan kelas yang akan terkait dengan sanksi jika terjadi pelanggaran, namun keyakinan kelas merupakan nilai kebajikan yang disepakati agar dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepedulian terhadap diri sendiri dan lingkungan. Tantangan berikutnya adalah dalam menumbuhkan motivasi intrinsik untuk beberapa peserta didik yang masih bertindak melanggar keyakin kelas secara berulang.

Berkaitan dengan penyusunan keyakinan kelas dan tantangan yang dihadapi terkait dengan penerapan keyakinan kelas, perlu adanya rencana tindak lanjut yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Melakukan pembiasaan dalam penerapan keyakinan kelas di awal proses pembelajaran sehingga kegiatan pembelajaran menjadi aman dan menyenangkan untuk semua warga kelas
  2. Membuka ruang komunikasi dengan semua peserta didik untuk dapat memenuhi kebutuhan peserta didik dalam belajar sehingga peserta didik merasa diperhatikan dan dipenuhi segala kebutuhan belajarnya
  3. Guru membiasakan untuk mengambil posisi kontrol sebagai manager sehingga menjadikan peserta didik dapat bertanggung jawab jika melakukan pelanggaran keyakinan kelas
  4. Jika ada peserta didik yang melanggar keyakinan kelas maka guru dapat menggunakan Segitiga Restitusi sebagai bentuk penanganannya sehingga peserta didik dapat menemukan solusi dari permasalahannya
  5. Melakukan refleksi secara berkala terhadap keyakinan kelas yang telah disepakati sehingga ada perbaikan untuk masa yang akan datang.