PENDIDIKAN GURU PENGGERAK, MENGGERAKKAN PEMBELAJARAN YANG BERDAMPAK POSITIF PADA MURID

Perubahan tidak dapat dimulai dari atas. Semuanya berawal dan berakhir dari guru. Jangan menunggu aba-aba, jangan menunggu perintah. Ambillah langkah pertama.”

-       Nadiem Makariem –

Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, Kemendikbud meluncurkan progam guru penggerak di awal tahun 2020 dengan tujuan untuk menjadi fasilitator dan praktisi di dunia pendidikan. Guru penggerak adalah pemimpin dalam proses belajar-mengajar yang membantu pertumbuhan dan perkembangan murid secara menyeluruh, aktif dan proaktif. Guru penggerak juga berkolaborasi dengan guru lain dalam menerapkan pembelajaran yang berpusat pada murid dan menjadi agen perubahan dalam ekosistem pendidikan untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Pendidikan guru penggerak untuk angkatan 6 dilakukan sekitar enam bulan. Adapun kegiatan belajar yang diikuti selama mengikuti program ini adalah menggunakan alur “Merdeka”.

Alur Merdeka belajar merupakan akronim dari Mulai dari Diri, Eksplorasi Konsep, Ruang Kolaborasi, Demonstrasi Kontekstual, Elaborasi Pemahaman, Koneksi AntarMateri, dan Aksi Nyata. Adapun  kegiatan belajar dengan Alur Merdeka ini meliputi menjawab pertanyaan pemantik di awal pembelajaran, mempelajari modul dan menyimak video, diskusi secara daring dalam LMS, berkolaborasi secara virtual dengan calon guru penggerak lainnya dibawah bimbingan fasilitator, membuat rencana penerapan dari materi yang dipelajari di sekolah dalam bentuk artikel, video, poster, dan sebagainya, adanya tahap merefleksi kembali modul dengan instruktur, membuat kesimpulan dari materi dan mengaitkan dengan materi sebelumnya, serta diminta menerapkan pengetahuan yang di peroleh di kelas atau sekolah. Kemudian kegiatan yang dilakukan adalah kegiatan pendampingan oleh Pengajar Praktik dan Lokakarya dan diakhiri dengan Panen karya Calon Guru Penggerak. Dengan tahapan kegiatan ini membuat proses belajar yang penulis lalui dapat dilakukan dengan mudah dan sistematis sehingga paradigma berpikirpun berubah, bagaimana setiap ilmu dan pengalaman yang didapat dapat diterapkan dengan mudah terutama dalam proses pembelajaran yang berpihak pada murid.

Dalam masa pendidikan guru penggerak ini, penulis sudah melakukan pembelajaran yang berdampak positif pada murid seperti menerapkan pembelajaran yang memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman. Penulis sendiri adalah seorang guru IPS yang mengajar di sekolah menengah pertama. Penerapan pembelajaran yang memperhatikan kodrat alam selalu penulis sisipkan pada setiap pembelajaran seperti menanamkan Kato Nan Ampek selama proses pembelajaran dan mengkontekstualkan materi yang dikaitkan dengan lingkungan alam dan sosial sekitar murid. Ketika memperhatikan kodrat zaman terlihat ketika penulis mengajak murid untuk membuat sebuah karya melalui canva, bisa dalam bentuk poster, video, dan komik pembelajaran.

Dengan bekal ilmu dari materi yang dipelajari dalam program guru penggerak ini penulis juga sudah menerapkan pembelajaran berdiferensiasi pada materi Interaksi Sosial. Dimana penulis menggunakan diferensiasi konten, proses, dan produk. Penulis menyiapkan materi dari buku BSE, dalam bentuk bahan ajar,  dan video untuk memberikan kemudahan bagi murid mempelajarinya sesuai dengan gaya belajarnya, kemudian penulis mengelompokkan murid secara heterogen sesuai dengan hasil asesmen diagnostik yang dilakukan. Pada akhirnya diferensiasi produk terlihat dari karya yang ditampilkan murid, ada yang mempresentasikan menggunakan kertas koran, membuat dalam bentuk  canva, membuat gambar proses interaksi sosial dan yang bukan interaksi sosial  serta mendemonstrasikan proses interaksi sosial.

Untuk mewujudkan pembelajaran yang mampu mencapai kesejahteraan psikologis (well-being), maka penulispun melakukan pembelajaran sosial dan emosional (PSE) terhadap murid. Penulis berusaha mengembangkan lima kompetensi PSE yang meliputi kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Aksi nyata yang penulis lakukan seperti mengidentifikasi kekuatan-kekuatan peserta didik, membangun proses pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, melakukan kegiatan mengelola emosi dan memusatkan perhatian dengan menggunakan teknik STOP sebelum pembelajaran, memberikan ice breaking ketika konsentrasi murid sudah mulai menurun, melakukan kegiatan diskusi dan kolaborasi untuk mengembangkan pola komunikasi yang baik dan efektif, membangun budaya positif di kelas dan lingkungan sekolah sesuai dengan keyakinan kelas dan sekolah yang telah ditetapkan. Penerapan kompetensi PSE ini sangat erat hubungannya dengan enam dimensi Profil Pelajar Pancasila. Seperti  salah satu contohnya ketika penulis mengajak murid untuk mengeluarkan ide baru untuk memecahkan masalah (dimensi kreatif) diperlukan juga kemampuan bernalar kritis untuk melihat permasalahannya. Dalam situasi ini murid telah mengembangkan kesadaran diri dan manajamen diri.

    Untuk mengembangkan kepemimpinan murid, penulis mengajak dua rekan guru lainnya yaitu yang mengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Prakarya untuk berkolaborasi memfasilitasi kegiatan murid pada program kokurikuler. Kegiatan ini dalam bentuk proyek kolaborasi pengolahan pangan berbahan dasar daging ayam (kolaborasi antara mata pelajaran PAI, Prakarya dan IPS). Proyek kolaborasi dilakukan untuk murid kelas IX secara berkelompok.  Kegiatan ini dilakukan setelah mendengarkan pendapat dari murid, bahwa mereka ingin mengadakan suatu kegiatan memasak, dimana terinspirasi dari kegiatan Marandang pada pelaksanaan P5 di sekolah. Sebelum kegiatan proyek dilakukan maka mereka dikumpulkan untuk mendengarkan ide dan pendapat mereka. Sehingga kami guru tiga mata pelajaran menjadi fasilitator yang mengarahkan cara kerja mereka. Murid  dalam kelompok yang terdiri dari lima orang menyembelih ayam (bagi murid muslim), mengolah daging ayam sesuai dengan selera kelompok,  dan melakukan pengemasan yang layak jual. Dimana sebelumnya mereka sudah merancang brosur dengan menggunakan canva dan menyebarnya di media sosial mereka. Dari kegiatan ini memberikan kesempatan bagi murid untuk mengembangkan kepemimpinan mereka dalam belajar, mereka merencanakan proyek dan  melakukan proyek untuk hasil yang mereka inginkan. Guru bertindak sebagai fasilitator untuk mengarahkan pelaksanaan proyek agar lebih efektif. 

       Dari aksi nyata yang penulis lakukan dalam pembelajaran terhadap murid, tidak terlepas dari proses belajar yang penulis lakukan dengan baik dan disiplin dibawah bimbingan pengajar praktik yang sangat mengayomi, fasilitator yang sangat hebat serta pihak Balai Guru Penggerak Sumatera Barat dan Dinas Pendidikan kota Payakumbuh yang sangat luar biasa dalam melakukan pendampingan terhadap penulis selaku calon guru penggerak.